Akhirnya…. mulai juga liburan ini !!!!… Setelah yudisium jam 7 malam kita sudah siap manis kumpul di BFM untuk berangkat ke Stasiun Senen. Senja Utama Solo kelas bisnis sudah menunggu kita untuk mengantarkan kita ke jogja… malioboro here we come!!!…
Sebenarnya agak khawatir juga sih dengan judul “naik kereta kelas bisnis”… ana si anak ga pernah susah yang selalu hidup enak dan bahkan ga pernah naik bus kota disuruh naik kereta ke jogja selama 10 jam ???… hahahaha… ternyata gue survive-survive saja tuh… hmmm…pengalaman baru….
10 jam di kereta (apalagi kelas bisnis) memang tidak nyaman dan membuat pantat mati rasa. Sungguh deh… tapi selama dijalani susah bersama-sama akhirnya tidak terasa juga kok…
” Kita seperti sedang berada di pelataran IRNA B ya na… bersama para keluarga penunggu pasien RSCM yang tidur lesehan di lantai…” komentar acul….
Sampai di Stasiun Yogyakarta Kota, kita segera beranjak ke malioboro, ternyata tinggal menggelundung, jaraknya hanya sekejap mata. Lalu tidak perlu susah-susah berpikir kita memilih losmen paling dekat dari ujung jalan sosrowijayan. Lucy Losmen, yah memang kualitasnya jauh dibawah hotel kelas melati bahkan… tapi kita kan cuma numpang tidur dan mandi. Yang penting bersih. Sebenarnya gue, acul sama laras agak shock melihat rupa kamar mandi ukuran 1×1/2 nya. Begitu buka pintu langsung kloset jongkok dan hanya dilengkapi ember dan gayung. Kloset jongkoknya menyatu dengan lantai, tidak ditinggikan…Pokoknya masuk langsung jongkok deh… hehehehe…. Akhirnya kita bertiga cuma tertawa….
Begitu sampai jogja, kita memulai dengan sightseeing di sekitar Malioboro-Pasar Beringhardjo-Taman Budaya. Batik-batik di pasar beringhardjo sebenarnya lumayan juga… tapi entah deh naluri belanja perempuan kita tidak keluar disana… Bosan batik kayaknya….
Selanjutnya dimulailah rentetan obsesi akan “Tempat-Tempat Makan Menarik di 6 Kota”… Jadi, si bintang punya buku yang berisi tempat-tempat makan menarik di 6 kota besar di Indonesia, awalnya sih cuma mau dijadikan referensi tempat wisata kuliner, tapi akhirnya malah jadi obsesi kita semua untuk mencoba SEBANYAK-BANYAKNYA tempat makan yang disebutkan… Mulai dari Sate kambing Pak Amat, Gudeg Yu Jum, Oseng-Oseng Mercon, Bakmi Doring, Wedang Ronde alun-alun, entah apa lagi… sangking seringnya makan sampai lupa..

Khusus untuk mencoba gudeg yu djum… sungguh tak terlupakan perjuangan yang ditempuh… benar-benar obsesi deh pokoknya. Akhirnya kita berhasil mencoba gudeg perjuangan itu setelah 1 jam berputar dengan trans yogya dan berjalan beratus-ratus meter ( katanya cuma 100 meter..tapi rasanya setelah ditempuh dengan kaki jauuuhhh sekali). Tapi rasa si gudeg memang sepadan dengan perjuangan kita mencari letak rumah makan itu…. hehehehe… obsesi….
Esok harinya… kita menjelajah bagian-bagian daerah jogja yang lebih mistik… Awalnya kita berkunjung ke rentetan pantai laut selatan jogja. Baron, Kukup, Drini…. dan yang paling indah Pantai Sepanjang.
Pantai Sepanjang pasirnya putih dengan air jernih dan garis pantai yang berkarang-karang. Selintas mirip Dreamland di bali. Bedanya disini pantainya masih sepi dan bersih, dari kurang lebih 2 km garis pantai yang membentang hanya ada kita ber10 dan sepasang cowok-cewek yang lagi pacaran. Angin dingin kencang yang berhembus disaat panas matahari terik-teriknya menambah kesan mistis di pantai itu.
Selanjutnya kita mengunjungi Gua Maria Tretes… Sebenarnya ga ada dalam agenda kita mengunjungi gua maria… mau ngapain??… jalan salib??… hehehehe. tapi gara2 si Abol yang cerewet pengan tahu gimana rupanya si gua Maria itu dan sebenarnya kita juga ga tau lagi mau kemana akhirnya kita mampir di gua itu. Ternyata tempatnya bagus juga… lagi-lagi terasa kental suasana mistik disana. Konon sebelum dijadikan tempat berdoa kepada Mariam, gua itu adalah tempat pertapaan orang-orang sakti jawa kuno…
Malamnya, kita sampai di kota jogja lagi, sebelum pulang ke losmen kita mampir ke alun-alun depan keraton untuk mencoba wedang ronde lesehan. Sambil mike, fani & bayu mencoba-coba peruntungan untuk lewat diantara kedua pohon beringin besar depan keraton yang konon kalau berhasil segala keinginan akan terkabul… Lagi-lagi mistis….
Buat gue, berada di lingkungan jawa yang kental seperti jogja membuat gue makin sadar budaya, sifat dan kebiasaan orang jawa sesungguhnya. hal itu menarik karena buat gue yang asli berdarah jawa tapi tinggal dan besar di kota metropolitan yang melting pot seperti Jakarta membuat gue agak kehilangan hal-hal tersebut. Walaupun orang tua setiap hari berkomunikasi dengan bahasa jawa, tapi dengan anak-anaknya mereka menggunakan bahasa indonesia. Practically gue ngomong jawa saja tidak bisa walau bisa mengerti (sedikit) jika orang berbicara. Agak ironis sih, terlebih lagi gue bukan tipe mbak-mbak jawa yang halus, manis, sabar dan lemah lembut. Hehehehe…. Satu lagi… Gue agak seram dengan aura jogja yang mistis…Walaupun mungkin itu salah satu yang menyebabkan daerah ini menarik.